Pada saat lebaran di kampungku tiga tahun ke belakang (tahun 2006), entah malaikat darimana yang datang, aku pingin jalan-jalan ke rumah temen temen SD ku doeloe dan menunda lebaranku di Bandung. Aku datengi temenku satu persatu, sambil terus mengajak yang didatangi untuk berkunjung ke temen lainnya. Alhasil terkumpul 13 orang yang berakhir di rumah orang tuaku.Begitu indahnya hari itu, kita bertukar cerita masa lalu dan bertukar pengalaman setelah keluar dari sekolah kita. ada perkataan temenku yang membuatku terhenyak, tersadar dan berpikir, dia berkata: "ternyata masih ada orang kota, yang mau bertemu dengan kita yang di kampung". Seolah aku ini siapa? Ya memang, dari sekitar 40 orang temenku dulu, tidak lebih dari 7 orang yang mengadu nasib di luar kampungku. Alhasil, dari pertemuan di rumahku tercetus ide untuk mengadakan reuni resmi lebaran tahun berikutnya (2007). Sayang, rencana itu batal karena kondisi kesehatanku saat itu sangat tidak memungkinkan, dan temenku yang lain merasa tidak enak bila aku tidak bisa hadir (lagi-lagi aku katakan aku ini memang siapa?), baru kita rencanakan lagi untuk diadakan setelah lebaran tahun 2009, Insya Allah, semoga Allah masih memberikan aku umur dan kesehatan sampai saat itu, amin.....
Reuni juga bisa bermakna sebagai ungkapan terima kasih kita akan masa lalu, yang telah turut mebesarkan bahkan mungkin membentuk diri kita, apapun kondisi kita saat ini. Bahwa kita pernah bersama, bahwa kita pernah senasib dan bahwa kita pernah merasakan pahit getirnya kehidupan disana, bersama. Terlalu naif dan "sombongnya' aku bila harus melewatkan moment "kembali bersama", moment kembali bertemu kawan-kawanku tanpa alasan yang jelas dan masuk akal.
Ketika Ani berkata pernah begitu membenciku, Ian bilang aku orang paling idealis yang sering mengeluh, Amdali bilang aku orang paling cengeng, Rini bilang aku orang paling cuek. Rasanya aku ingin lebih lagi mendengar ceritaku dari mereka, seperti juga aku ingin menceritakan mereka dulu. Mungkin hanya sebagai nostalgia, mungkin juga bisa kita ambil untuk introsfeksi diri. Jangan-jangan kita masih membawa semua sifat buruk dulu pada kehidupan kita saat ini tanpa kita ketahui, karena temen kita saat ini mungkin amat sangat enggan mengingatkan kita.
Buat rekan yang merasa hidupnya telah "berhasil", mari jadikan ajang reuni untuk sedikit perhatian buat rekan yang katanya belum berhasil, syukur kalau bisa merangkul mereka. Buat rekan yang merasa hidupnya "belum berhasil" tak ada kata malu untuk hadir, tidak ada salahnya dijadikan ajang silaturahmi dan mencari informasi, barangkali....
Hanya saja belakangan ini, reuni sudah mengalami distorsi makna. Reuni sekedar menjadi ajang adu gengsi keberhasilan mengumpulkan materi duniawi. Karena hal inilah ada sebagian kawan yang enggan ikut reuni, alasannya masuk akal juga. Memaknai reuni menjadi ajang silaturahmi tanpa harus adu gengsi akan sulit dihindari, karena sudah jamak sifat manusia untuk unjuk diri. Memamerkan keberhasilan secara materi adalah perwujudan dari eksistensi diri. Sah saja kalau masih dalam taraf bertoleransi dengan kawan yang kurang beruntung.
“Biarlah semua kenangan tetap tersimpan indah dalam hati. Manusia selalu berubah, ada yang menuju kebikan ada yang menuju keburukan. Takut ada rasa kecewa ketika berjumpa kawan sudah berbeda dengan kenangan yang ada.” itu kata orang yang tidak mau realistis menghadapi hidup
sahid, edwin dimanakah kalian?







