Jumat, 23 Oktober 2009
Kamis, 01 Oktober 2009
PROGRAM POSKO89PEDULI TAHAP 2

Rekan Dermawan Yth.
Alhamdulillah, atas rahmat dan karunia Allah SWT, Program Posko89Peduli tahap Pertama telah selesai dengan sukses dijalankan. Seperti telah dilaporkan sebelumnya, bahwa untuk Tahap Pertama telah disalurkan dana bantuan pendidikan terhadap 4 orang anak yatim, dengan masing masing memperoleh bantuan sebesar Rp 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah) dengan cari diberikan setiap bulan selama satu tahun. Dari jumlah 4 orang yang diberikan bantuan dana yang disalurkan adalah sebesar Rp. 4.800.000,- (empat juta delapan ratus ribu rupah).
Dengan berbesar hati, atas keyakinan bahwa masih sangat banyak rekan yang peduli akan nasib anak anak yatim dari saudara kita, maka kami berencana untuk menggulirkan Program Posko89Peduli, untuk santunan anak yatim tahap Kedua yang akan dimulai pada bulan ini, Oktober 2009 dan berakhir pada September 2010.
Adapun mekanisme santunan dilakukan sama dengan seperti Tahap Pertama, yaitu 1 orang anak yatim menerima bantuan dana total sebesar Rp 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah), yang akan diberikan secara bertahap selama satu tahun.
Untuk Tahap Kedua ini, kami membuka dan meminta masukan rekan mengenai anak yatim yang akan diberikan bantuan. Besar harapan kami semoga rekan semua berkenan untuk menjadi donasi, baik tetap maupun tidak tetap.
Adapun mekanisme santunan dilakukan sama dengan seperti Tahap Pertama, yaitu 1 orang anak yatim menerima bantuan dana total sebesar Rp 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah), yang akan diberikan secara bertahap selama satu tahun.
Untuk Tahap Kedua ini, kami membuka dan meminta masukan rekan mengenai anak yatim yang akan diberikan bantuan. Besar harapan kami semoga rekan semua berkenan untuk menjadi donasi, baik tetap maupun tidak tetap.
Donasi rekan semua dapat disalurkan melalui
Bank BRI Rek: 0156-01-016230-50-7
Bank Mandiri Rek: 133-00-0588762-5
Bank BNI Rek: 0003436498
Bank Mandiri Rek: 133-00-0588762-5
Bank BNI Rek: 0003436498
terima kasih
posko89peduli
posko89peduli
Minggu, 20 September 2009
SELAMAT LEBARAN.....
SEGENAP PENGASUH CIKARET 89
MENGUCAPKAN
SELAMAT HARI RAYA IDHUL FITRI
1 SYAWAL 1430 H
MOHON MAAF ATAS SEMUA KESALAHAN DALAM MENEMI SELURUH REKAN DI DUNIA MAYA INI
MENGUCAPKAN
SELAMAT HARI RAYA IDHUL FITRI
1 SYAWAL 1430 H
MOHON MAAF ATAS SEMUA KESALAHAN DALAM MENEMI SELURUH REKAN DI DUNIA MAYA INI
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Seandainya ada hari dimana aku tak ingin meninggalkannya, itu adalah hari ini.
Seandainya ada hari dimana aku ingin selalu ada bersamanya, itu adalah hari ini.
Seandainya ada hari dimana aku akan menyesalinya karena telah menyiayiakannya, itu adalah hari ini.
Seandainya ada hari dimana aku akan sangat merindukannya, itu adalah hari ini.
Ya Rab......, izinkan aku untuk dapat bertemu lagi dengannya tahun depan.
Ramadhan........, semoga, Insya Allah
Dari hati yang paling dalam, kami sekeluarga mengucapkan
Selamat hari Idhul Fitri 1 Syawal 1430 H
Mohon maaf lahir dn bathin.
Otong Zenal Arifin dan Keluarga
Seandainya ada hari dimana aku ingin selalu ada bersamanya, itu adalah hari ini.
Seandainya ada hari dimana aku akan menyesalinya karena telah menyiayiakannya, itu adalah hari ini.
Seandainya ada hari dimana aku akan sangat merindukannya, itu adalah hari ini.
Ya Rab......, izinkan aku untuk dapat bertemu lagi dengannya tahun depan.
Ramadhan........, semoga, Insya Allah
Dari hati yang paling dalam, kami sekeluarga mengucapkan
Selamat hari Idhul Fitri 1 Syawal 1430 H
Mohon maaf lahir dn bathin.
Otong Zenal Arifin dan Keluarga
Kamis, 10 September 2009
Terimakasihku......, tetanggaku.....
Karena Aku tak menegerti dengan perilaku diriku sendiri.....
Hari hari belakangan ini kita banyak disibukan dengan tontonan mengenai kemarahan bangsa kita akan negeri tetangga yang telah beberapa kali mengklaim warisan bidaya bangsa kita, mereka dengan "bangga" menjadikan hal itu sebagai bagian dari warisan maha luhur karya nenek moyang mereka. Kita hanya mampu marah semarah-marahnya marah, kita geram, kita tersinggung, sementara para elit lebih banyak diam dengan tetap memperhatikan keserasian dan toleransi bernegara dan bertetangga.
Mari kita sedikit menoleh kebelakang, apa yang telah kita perbuat untuk negeri dan bangsa ini, untuk mampu bangga dengan negeri ini, untuk kita mampu menjaga kedaulatan negeri ini?
Ribuan pulau yang tersebar menjadi satu kesatuan wilayah kedaulatan NKRI, pada kenyataannya sampai saat inipun masih ada yang lupa diberi nama, apalagi untuk membingkainya dalam kesatuan wilayah yang makmur....... Tidak pantas memang negeri tetangga seenaknya mengklaim itu sebagai wilayhnya, namun lebih tidak pantas lagi kita yang membiarkannya begitu saja.
Ratusan ribu TKI, bahkan mungkin jutaan anak negeri ini mengais rejeki di negeri orang, karena sulitnya mengais rezeki dinegeri sendiri. Mereka dengan indahnya diberi gelar sebagai "pahlawan devisa" negeri ini. Namun apa yang kita lakukan untuk mereka, ketika mereka diusir dengan hina, dikejar-kejar, disiksa, dihukum mati bahkan diperkosa? Kita mungkin hanya mampu marah, semarah marahnya marah, tidak lebih.
Ketika kekayaan alam negeri ini telah banyak mengundang bangsa asing untuk ikut serta mencicipinya dengan menjajah, serentak seluruh rakyat negeri ini berontak melawan Inggris, Belanda dan Jepang. Namun ketika seluruh aset negeri ini secara perlahan, sedikit demi sedikit dikuasai oleh asing, kita hanya bisa diam, sediam-diamnya diam. Kita mungkin hanya memiliki sebagian emas, minyak, perak dan lainnya yang ada dalam perut bumi kita. Bahkan kini kita harus membeli air yang kita minum yang mengalir deras dari mata air depan halaman rumah kita........ Kekayaan bangsa ini, yang seharusnya sebesar-besarnya dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, rasanya kini lebih banyak dimiliki oleh pribadi-pribadi anak negeri bahkan anak tetangga negeri, yang tentunya akan lebih untuk sebesar-besarnya kekayaan sendiri, entah dimanakah letak kedaulatan bangsaku...?
Mungkin begitu ironinya tanah negeri ini, sungguh aku tak habis mengerti;
Sungguh........, betapa negeri tetangga begitu bangganya memiliki adat dan kebudayaan yang notabene milik bangsa kita, sementara kita sepertinya begitu risih untuk memamerkan kebanggan kita pada orang lain.
Sungguh........, betapa negeri tetangga kita amat sangat sayang dengan kekayaan yang melimpah ruah yang kita miliki sehingga mengundang mereka untuk sekedar mencicipi bahkan berkeinginan memiliki, sementara kita bahkan tidak ingat kalau kita memilikinya seandainya tetangga kita tidak mengingatkan. Kita terlalu asyik bicara, kita terlalu asyik berjanji, kita terlalu asyik berwacana, hinga kita lupa untuk beraksi
Sungguh......., entah mau dibawa kemana bangsa yang amat sangat besar ini,,,,?
Terakhir, kita memang pantas untuk marah...., kita memang pantas untuk tersinggung...., kita memang pantas untuk untuk balik menghina, mencela, mencaci, memaki, mengutuk dan segudang macam itu negeri tetangga, namun apalah artinya itu? Mari kita berkaca diri.
Mari kita sedikit menoleh kebelakang, apa yang telah kita perbuat untuk negeri dan bangsa ini, untuk mampu bangga dengan negeri ini, untuk kita mampu menjaga kedaulatan negeri ini?
Ribuan pulau yang tersebar menjadi satu kesatuan wilayah kedaulatan NKRI, pada kenyataannya sampai saat inipun masih ada yang lupa diberi nama, apalagi untuk membingkainya dalam kesatuan wilayah yang makmur....... Tidak pantas memang negeri tetangga seenaknya mengklaim itu sebagai wilayhnya, namun lebih tidak pantas lagi kita yang membiarkannya begitu saja.
Ratusan ribu TKI, bahkan mungkin jutaan anak negeri ini mengais rejeki di negeri orang, karena sulitnya mengais rezeki dinegeri sendiri. Mereka dengan indahnya diberi gelar sebagai "pahlawan devisa" negeri ini. Namun apa yang kita lakukan untuk mereka, ketika mereka diusir dengan hina, dikejar-kejar, disiksa, dihukum mati bahkan diperkosa? Kita mungkin hanya mampu marah, semarah marahnya marah, tidak lebih.
Ketika kekayaan alam negeri ini telah banyak mengundang bangsa asing untuk ikut serta mencicipinya dengan menjajah, serentak seluruh rakyat negeri ini berontak melawan Inggris, Belanda dan Jepang. Namun ketika seluruh aset negeri ini secara perlahan, sedikit demi sedikit dikuasai oleh asing, kita hanya bisa diam, sediam-diamnya diam. Kita mungkin hanya memiliki sebagian emas, minyak, perak dan lainnya yang ada dalam perut bumi kita. Bahkan kini kita harus membeli air yang kita minum yang mengalir deras dari mata air depan halaman rumah kita........ Kekayaan bangsa ini, yang seharusnya sebesar-besarnya dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, rasanya kini lebih banyak dimiliki oleh pribadi-pribadi anak negeri bahkan anak tetangga negeri, yang tentunya akan lebih untuk sebesar-besarnya kekayaan sendiri, entah dimanakah letak kedaulatan bangsaku...?
Mungkin begitu ironinya tanah negeri ini, sungguh aku tak habis mengerti;
- Ketika sebuah Pemda menjerat beberapa penderma dengan hukum pidana, akau hanya bisa bertanya, apa yang telah mereka lakukan untuk membuiat mereka para pengemis berdaya, sehingga bisa mengatasi laparnya perut mereka tanpa harus menyusahkan penderma?
- Ketika sebuah Pemda berencana melakukan razia kendaraan bermotor yang bukan berasal dari wilayahnya dengan alasan PAD, dimanakah letak salahnya, dimanakah sebenarnya Negara Republik Indonesia berada?
- Ketika Hak apalah namanya atas beberapa pulau kepada individu berkewarganegaraan asing, dimana bahkan orang kita "pemilik sah tanah air bangsa ini" dilarang masuk ke dalam wailayah tersebut. Bahkan kini asyik diperjualbelikan di luar. Masih berdaulatkah bangsa ini?
- Ketika para politisi, cerdik pandai, pejabat asyik berdebat tanpa ujung bicara kemakmuran rakyat, bicara lapangan kerja, bicara wong cilik dan lain sebagainya, disaksikan jutaan pasang mata pengangguran, jutaan rakyat kelaparan, jutaan wong cilik yang selamanya hanya jadi wong cilik.
- Ketika trilyunan rupiah dialirkan untuk menalangi hartanya para debitur berduit, karena "kesalahan individu dan atau organisasi" yang dimaafkan pemerintah dengan alasan keamanan dan stabilitas ekonomi. Sementara ribuan orang di Papua menjerit kelaparan bahkan diantaranya meregang nyawa, ribuan bahkan mungkin ratusan ribu warga Tasik, Ciamis, Garut, Cianjur dan sekitarnya hidup di tenda tenda pengungsian karena runmahnya roboh tertimpa bencana gempa. Betapa aku ingin tertawa, gelinya perilaku bangsaku.
Sungguh........, betapa negeri tetangga begitu bangganya memiliki adat dan kebudayaan yang notabene milik bangsa kita, sementara kita sepertinya begitu risih untuk memamerkan kebanggan kita pada orang lain.
Sungguh........, betapa negeri tetangga kita amat sangat sayang dengan kekayaan yang melimpah ruah yang kita miliki sehingga mengundang mereka untuk sekedar mencicipi bahkan berkeinginan memiliki, sementara kita bahkan tidak ingat kalau kita memilikinya seandainya tetangga kita tidak mengingatkan. Kita terlalu asyik bicara, kita terlalu asyik berjanji, kita terlalu asyik berwacana, hinga kita lupa untuk beraksi
Sungguh......., entah mau dibawa kemana bangsa yang amat sangat besar ini,,,,?
Terakhir, kita memang pantas untuk marah...., kita memang pantas untuk tersinggung...., kita memang pantas untuk untuk balik menghina, mencela, mencaci, memaki, mengutuk dan segudang macam itu negeri tetangga, namun apalah artinya itu? Mari kita berkaca diri.
Senin, 24 Agustus 2009
NIKMATNYA PUASA DI NEGERI SENDIRI
--------------
Sendiri aku di rumah sakit, rasanya sedih juga....., coba di negeri sendiri, mungkin udah se RT kali yang nungguin. Sekitar jam 12-an malem perutku bener-bener perih melilit, minta ampun lapernya....., gimana ngga laper lha wong udah lebih dari 28 jam belum ketemu sama makanan (terakhir makan saat buka puasa hari sebelumnya) . Kucoba buka kulkas, isinya cuman ada buah-buahan, sama susu, kacau juga..........., aku coba gedein laju inpus, tapi tetep ga bisa ngilangin lapernya perut, gimana ini......., bakalan ga bisa tidur. Terpaksa dengan menghilangkan perasaan malu, aku manggil perawat, minta makan kali aja ada dan bisa....... Beruntung dan mungkin memang hebatnya lagi rumah sakit di sana, pihak rumah sakit bisa menyediakan makanan. Hmmmm...... Alhamdulillah senengnya bisa terbebas dari rasa lapar yang menggangu.....
Setelah sekitar 20 menit berlalu, makanan yang dipesan akhirnya muncul juga. Dengan senyum yang ramah, walau raut mukanya keliatan menahan kantuk, perawat tersebut menyajikan dan mempersilakan aku untuk makan. Demi Allah......., aku sungguh bingung dengan apa yang terhampar didepanku, pemandangan yang sungguh bikin perutku mual mual. Bagaimana tidak, menu makan yang ada dihadapanku, sama persis dengan menu makan sahur yang tidak aku makan, nasi campur soup ikan...... Ya rob, Engkau Allah yang maha tahu, di bulan puasa yang suci ini Engkau tunjukan Kuasa-Mu. Aku yang kata istri dan ortuku gampang-gampang susah sama yang namanya menu makanan dibikin susah dengan hidangan makan yang ada, yang lebih banyak ngga sukanya dibanding sukanya dengan jenis jenis makanan, dua kali dikasih makanan yang sungguh sungguh sangat tidak aku suka. Aku bener bener dikasih pelajaran yang telak di negeri orang. Rasanya aku males untuk minta lagi makan sama perawat, dengan sangat terpaksa akau makan apel plus susu coklat dingin, yah lumayanlah buat ganjel-ganjel perut.
Setelah sembuh dan kembali lagi ke hotel, susahnya mendapatkan makanan yang sesuai harapan menjadi pelajaran yang berharga dan membuatku berusaha untuk berjaga-jaga. Persediaan makanan menjadi menu utama yang selalu ada di kulkas; roti, buah naga, pisang dan apel harus selalu ada. Ada sedikit yang lucu, tadinya aku sempet beli donut DD (merk international) sebagai cadangan makanan, dengan harapan rasa dan baunya sama dng di Indonesia. Tapi entahlah......, entah memang rasa dan baunya berbeda atau pikiranku saja yang merasakan bahwa rasanya berbeda dengan yang di Indonesia dan itu membikin perutku mual dengan baunya yang sangat menyengat. Alhamdulillah....., walau dengan kondisi yang serba sangat tidak berpihak buatku......., aku mencoba untuk dapat terus menjalankan puasa. Kalo dibilang bahwa memang tidak enak puasa di negeri orang....., aku berpikir kapan lagi bisa puasa dinegeri orang?
Akhirnya....., penderitaan itu berakhir persis 7 hari sebelum lebaran, aku pulang........, dan sungguh ngga terduga aku merasakan nikmatnya makan justru pada saat di pesawat, mungkin karena mau pulang...., walau pake pesawat thailand punya, bau dan rasa masakannya sungguh ngga ada sedikitpun beraroma Thailand. Kembali ke rumah....., kembali ke menu favorit...., semur jengkol.............
Setelah sembuh dan kembali lagi ke hotel, susahnya mendapatkan makanan yang sesuai harapan menjadi pelajaran yang berharga dan membuatku berusaha untuk berjaga-jaga. Persediaan makanan menjadi menu utama yang selalu ada di kulkas; roti, buah naga, pisang dan apel harus selalu ada. Ada sedikit yang lucu, tadinya aku sempet beli donut DD (merk international) sebagai cadangan makanan, dengan harapan rasa dan baunya sama dng di Indonesia. Tapi entahlah......, entah memang rasa dan baunya berbeda atau pikiranku saja yang merasakan bahwa rasanya berbeda dengan yang di Indonesia dan itu membikin perutku mual dengan baunya yang sangat menyengat. Alhamdulillah....., walau dengan kondisi yang serba sangat tidak berpihak buatku......., aku mencoba untuk dapat terus menjalankan puasa. Kalo dibilang bahwa memang tidak enak puasa di negeri orang....., aku berpikir kapan lagi bisa puasa dinegeri orang?
Akhirnya....., penderitaan itu berakhir persis 7 hari sebelum lebaran, aku pulang........, dan sungguh ngga terduga aku merasakan nikmatnya makan justru pada saat di pesawat, mungkin karena mau pulang...., walau pake pesawat thailand punya, bau dan rasa masakannya sungguh ngga ada sedikitpun beraroma Thailand. Kembali ke rumah....., kembali ke menu favorit...., semur jengkol.............
Kamis, 20 Agustus 2009
Marhaban yaa....ramadhan......, nikmatnya puasa
Nikmatnya puasa di negeri sendiri
Setiap menjelang ramadhan, aku selalu teringat sebuah pepatah mengatakan, "hujan batu di negeri sendiri lebih baik dibanding hujan duit di negeri orang" (keterlaluan kalo masih berpikir seperti ini ya....?). Untuk urusan menjalankan ibadah puasa, rasanya pemeo tersebut rasanya ada betulnya, apalagi buat yang punya perut rada kolokan dan susah kompromi macam aku......? rasanya ga mau lagi deh puasa di negeri orang.
Bukannya kebetulan kalo pada tahun 2005, aku harus menjalankan puasa di negeri Gajah Putih Thailand, negeri yang sebenarnya kata orang surganya wisata kuliner, dimana segala macam masakan tumpah ruah hadir disana, dari mulai emper jalanan yang didominasi pedagang makanan, sampai Mall mall baik yang besar maupun yang kecil, selalu hadir tempat makanan. Kalo di kita tempat makanan selalu ditempatkan di lantai atas, maka di Thai justru berada di lantai bawah.
Baun makanan yang menyengat hidung.......apalagi dalam kondisi puasa...., bener-bener membuat perut aku selalu mual ngga tahan dengan baunya (entah karena faktor rempahnya atau dagingnya?), itu yang membuat kadang aku harus menutup hidung dan menahan napas bila jalan-jalan di mall. Belum lagi makanan yang kayanya jadi ciri khasnya yaitu serba ikan, padahal aku alergi banget dengan yg namanya makan ikan. Seperti di tempat menginapku (Kasetsart University Home Hotel), yang juga didominaasi menu makan ikan......., duh berabe banget.
Ceritanya....., saat sahur aku minta tolong sama hotel untuk disajikan makan sekitar jam 4 pagi (mereka awalnya bingung......ada orang aneh yg makan sebelum orang lain bangun), Alhamdulillah, ternyata mereka walau sedikit lambat mau menyajikan juga. Namun alangkah terperanjatnya waktu melihat makanan yang terhidang (aku lupa pesen menunya), satu mangkuk besar nasi yang telah dicampur dengan sup ikan....., jangankan untuk makan...., ngeliatnya aja udah nek dan mual. Jadilah sahurku hanya secangkir kopi, beberapa potong buah dan beberapa batang rokok. Aman......, untuk saat itu.
Dinginnya ruangan kelas yang ber-AC memang ga bikin haus, namun seisi perut rasanya diaduk-aduk, badan dingin ga karuan, rasanya pingin banget buka puasa..., namun rasanya sayang......... Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga ke buka puasa, namun sialnya .......lupa ngga ngeluarin air minum dari kulkas......, jadilah aku minum air dingin...., wah.... sueger banget..... nikmat.... (ngebayanginnya entar saat lagi puasa ya), namun itulah awal malapetaka, karena ngga lama berselang perutku dan seluruh badanku bener bener dingin, kepalaku goyang....., dah akhirnya tumbang ngga sadarkan diri di meja makan. Baru inget lagi setelah jarum infus terasa sakit menusuk tanganku. Malam itu terpaksa aku sendirian (ditemenin perawat deng.......) menghabiskan malam di rumah sakit.
bersambung..........
Bukannya kebetulan kalo pada tahun 2005, aku harus menjalankan puasa di negeri Gajah Putih Thailand, negeri yang sebenarnya kata orang surganya wisata kuliner, dimana segala macam masakan tumpah ruah hadir disana, dari mulai emper jalanan yang didominasi pedagang makanan, sampai Mall mall baik yang besar maupun yang kecil, selalu hadir tempat makanan. Kalo di kita tempat makanan selalu ditempatkan di lantai atas, maka di Thai justru berada di lantai bawah.
Baun makanan yang menyengat hidung.......apalagi dalam kondisi puasa...., bener-bener membuat perut aku selalu mual ngga tahan dengan baunya (entah karena faktor rempahnya atau dagingnya?), itu yang membuat kadang aku harus menutup hidung dan menahan napas bila jalan-jalan di mall. Belum lagi makanan yang kayanya jadi ciri khasnya yaitu serba ikan, padahal aku alergi banget dengan yg namanya makan ikan. Seperti di tempat menginapku (Kasetsart University Home Hotel), yang juga didominaasi menu makan ikan......., duh berabe banget.
Ceritanya....., saat sahur aku minta tolong sama hotel untuk disajikan makan sekitar jam 4 pagi (mereka awalnya bingung......ada orang aneh yg makan sebelum orang lain bangun), Alhamdulillah, ternyata mereka walau sedikit lambat mau menyajikan juga. Namun alangkah terperanjatnya waktu melihat makanan yang terhidang (aku lupa pesen menunya), satu mangkuk besar nasi yang telah dicampur dengan sup ikan....., jangankan untuk makan...., ngeliatnya aja udah nek dan mual. Jadilah sahurku hanya secangkir kopi, beberapa potong buah dan beberapa batang rokok. Aman......, untuk saat itu.
Dinginnya ruangan kelas yang ber-AC memang ga bikin haus, namun seisi perut rasanya diaduk-aduk, badan dingin ga karuan, rasanya pingin banget buka puasa..., namun rasanya sayang......... Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga ke buka puasa, namun sialnya .......lupa ngga ngeluarin air minum dari kulkas......, jadilah aku minum air dingin...., wah.... sueger banget..... nikmat.... (ngebayanginnya entar saat lagi puasa ya), namun itulah awal malapetaka, karena ngga lama berselang perutku dan seluruh badanku bener bener dingin, kepalaku goyang....., dah akhirnya tumbang ngga sadarkan diri di meja makan. Baru inget lagi setelah jarum infus terasa sakit menusuk tanganku. Malam itu terpaksa aku sendirian (ditemenin perawat deng.......) menghabiskan malam di rumah sakit.
bersambung..........
Langganan:
Postingan
(Atom)

