Rabu, 08 Oktober 2008

REUNI, KENAPA SAYA SAYA HARUS TIDAK HADIR?

Pada saat lebaran di kampungku tiga tahun ke belakang (tahun 2006), entah malaikat darimana yang datang, aku pingin jalan-jalan ke rumah temen temen SD ku doeloe dan menunda lebaranku di Bandung. Aku datengi temenku satu persatu, sambil terus mengajak yang didatangi untuk berkunjung ke temen lainnya. Alhasil terkumpul 13 orang yang berakhir di rumah orang tuaku.

Begitu indahnya hari itu, kita bertukar cerita masa lalu dan bertukar pengalaman setelah keluar dari sekolah kita. ada perkataan temenku yang membuatku terhenyak, tersadar dan berpikir, dia berkata: "ternyata masih ada orang kota, yang mau bertemu dengan kita yang di kampung". Seolah aku ini siapa? Ya memang, dari sekitar 40 orang temenku dulu, tidak lebih dari 7 orang yang mengadu nasib di luar kampungku. Alhasil, dari pertemuan di rumahku tercetus ide untuk mengadakan reuni resmi lebaran tahun berikutnya (2007). Sayang, rencana itu batal karena kondisi kesehatanku saat itu sangat tidak memungkinkan, dan temenku yang lain merasa tidak enak bila aku tidak bisa hadir (lagi-lagi aku katakan aku ini memang siapa?), baru kita rencanakan lagi untuk diadakan setelah lebaran tahun 2009, Insya Allah, semoga Allah masih memberikan aku umur dan kesehatan sampai saat itu, amin.....

Reuni diadakan untuk saling bernostalgia semasa masih bersama di waktu lampau (bisa keluarga, kawan sekolah, kawan kerja dll). Tujuan mulia reuni adalah menjalin silaturahmi. Penjelasan bahwa silaturahmi memperlancar rizqi adalah dalam konteks mempererat kedekatan batin untuk menjadi rekan bertukar informasi dalam hal apa pun termasuk bisnis.


Reuni juga bisa bermakna sebagai ungkapan terima kasih kita akan masa lalu, yang telah turut mebesarkan bahkan mungkin membentuk diri kita, apapun kondisi kita saat ini. Bahwa kita pernah bersama, bahwa kita pernah senasib dan bahwa kita pernah merasakan pahit getirnya kehidupan disana, bersama. Terlalu naif dan "sombongnya' aku bila harus melewatkan moment "kembali bersama", moment kembali bertemu kawan-kawanku tanpa alasan yang jelas dan masuk akal.


Ketika Ani berkata pernah begitu membenciku, Ian bilang aku orang paling idealis yang sering mengeluh, Amdali bilang aku orang paling cengeng, Rini bilang aku orang paling cuek. Rasanya aku ingin lebih lagi mendengar ceritaku dari mereka, seperti juga aku ingin menceritakan mereka dulu. Mungkin hanya sebagai nostalgia, mungkin juga bisa kita ambil untuk introsfeksi diri. Jangan-jangan kita masih membawa semua sifat buruk dulu pada kehidupan kita saat ini tanpa kita ketahui, karena temen kita saat ini mungkin amat sangat enggan mengingatkan kita.


Buat rekan yang merasa hidupnya telah "berhasil", mari jadikan ajang reuni untuk sedikit perhatian buat rekan yang katanya belum berhasil, syukur kalau bisa merangkul mereka. Buat rekan yang merasa hidupnya "belum berhasil" tak ada kata malu untuk hadir, tidak ada salahnya dijadikan ajang silaturahmi dan mencari informasi, barangkali....


Hanya saja belakangan ini, reuni sudah mengalami distorsi makna. Reuni sekedar menjadi ajang adu gengsi keberhasilan mengumpulkan materi duniawi. Karena hal inilah ada sebagian kawan yang enggan ikut reuni, alasannya masuk akal juga. Memaknai reuni menjadi ajang silaturahmi tanpa harus adu gengsi akan sulit dihindari, karena sudah jamak sifat manusia untuk unjuk diri. Memamerkan keberhasilan secara materi adalah perwujudan dari eksistensi diri. Sah saja kalau masih dalam taraf bertoleransi dengan kawan yang kurang beruntung.


Biarlah semua kenangan tetap tersimpan indah dalam hati. Manusia selalu berubah, ada yang menuju kebikan ada yang menuju keburukan. Takut ada rasa kecewa ketika berjumpa kawan sudah berbeda dengan kenangan yang ada. itu kata orang yang tidak mau realistis menghadapi hidup


Biarkan semua kenangan tersimpan indah dalam hati. Manusia selalu berubah, ada yang menuju kebikan ada yang menuju keburukan. Aku ingin melihat dan mengenal mereka sekarang seperti apa, berubahkah? kata orang yang mencoba berpikir realistis.

Akhirnya, kita kembalikan pada keinginan kita, nurani kita. Buat yang segera berangkat reuni, selamat bereuni, niatkan diri kita dari saat berangkat bahwa saya pergi untuk menyambung kembali silaturahmi, tak ada niat lain. Buat yang tidak bisa hadir reuni, selamat juga, karena anda telah melewatkan kesempatan bersilaturahmi, melewatkan kesempatan kembali mengenal diri, melewatkan indahnya kebersamaan kita dulu.

sahid, edwin dimanakah kalian?

Selasa, 07 Oktober 2008

YANG TERSISA DARI LEBARAN

Ya, sebenarnya cape banget buat nulis, tapi kerinduan untuk mengisi blog ini begitu besarnya, ngalahin semua rasa lelah. Kelelahan mudik dan balik lebaran akan selalu, dan terus dialami, entah untuk beberapa tahun ke depan? Macetnya jalan raya seakan makanan empuk yang harus terus dilalui. namun tidak akan pernah menyurutkan niatku untuk terus dan terus mudik tiap tahun

Mudik sepertinya sudah merupakan tradisi yang harus dijalani oleh sebagian besar orang Indonesia (termasuk aku). Rasanya belum lengkap lebaran bila tidak mengumandangkan takbir semalaman sambil bertukar cerita disaat-saat cape dan istirahat, di mushola depan rumahku, rasanya ingin semua malam seperti saat itu. Lebaran juga belum lengkap bila tidak bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga. Bisa sungkem sama orang tua, maaf maafan sama adik kakak dan lainnya saat lebaran rasanya tidak akan tergantikan pada bulan lainnya.


Bisa makan ketupat bersama sehabis shalat Ied, merupakan keasyikan tersendiri. Banyak keasyikan dan cerita lucu tersaji, mulai dari yang minta ini itu, rebutan ini itu sampai pecahnya piring atau gelas, ditanggapi dengan senyum dan tertawa, hari itu semunya terasa lucu, seolah hiburan yang hanya terjadi setahun sekali.

Anakanakku (padahal cuman 2), hari itu juga bebas dari semua omelan dan larangan, seolah hari itu adalah hari miliknya, main petasan, main kembang api, main motor dan lainnya, hari itu boleh. Yap, rasanya terlalu sayang kalo harus bertengkar ama anak. He....he.....

Tradisi ziarah kubur juga jadi ajang menarik, selain mendoakan leluhur maupun saudara yang telah lebih dulu meninggal, juga jadi ajang mengenalkan kembali akan asal-usul keturunan (Aku baru tahu kalo Eyang dari ayahku berasal dari Jawa Cirebon dan Eyang dari Ibuku Natapraja berasal dari keluarga Santana, Gereba, Kawali. Hallo keluarga besar Santana, maaf lahir bathin kalo baru sekarang saya tahu, maaf juga tidak ikut reuni keluarga karena harus segera kembali leberan ke Bandung)

Ya mudik lebaran, walau mungkin bukan tradisi Islam, namun banyak menyajikan keindahan dan manfaat yang diperoleh. Kembali mempererat tali silaturahmi.

Akhirnya, kini kita kembali pada rutinitas kita, klehidupan kita dan.....ngisi blog kita tentunya.

Seandainya setiap hari adalah lebaran, alangkah indahnya hidup ini.

Met Lebaran, maaf lahir dan bathin

Jumat, 03 Oktober 2008

PERUBAHAN URL

DIBERITAHUKAN KEPADA SEGENAP REKAN DAN PEMBACA BAHWA UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN DAN KEMUDAHAN ANDA DALAM MENGAKSES WEB KITA
SEJAK 24 SEPTEMBER 2008
KAMI BERUBAH URL MENJADI


www.cikaret89.com

DEMIKIAN, SEMOGA REKAN SEMUA SEMAKIN AKTIF BERPARTISIFASI DALAM WEB KITA INI
AMIN

pengasuh

MAAF DARI PENGASUH

SEGENAP PENGASUH
supm bogor 89 kenangan

MENGHATURKAN

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
mohon maaf yang tulus atas segala kesalahan, kehilafaan,
kekurangan dan ketidakpuasan rekan semua akan web ini

pengasuh

www.cikaret89.com


Kamis, 02 Oktober 2008

MAAF LAHIR BATHIN



KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN
SELAMAT HARI RAYA
IDUL FITRI 1429 H.

MOHON MAAF ATAS SEMUA KESALAHAN DAN KEHILAFAN

PATRIANI dan KELUARGA


maaf dari kami: tong


Semoga di hari yang fitrah ini, rekan semua berkenan membukakan pintu maaf buat saya pribadi dan keluarga atas semua kesalahan dan kekhilafan. Amin

Rabu, 01 Oktober 2008

Selamat Iedul Fitri 1 Syawal 1429 H