Jumat, 12 September 2008

IKUTAN YA KAK !!!


Hallo kakak-kakak alumni dan kawan-kawanku or siapa aja yang cinta ma alamamater SUPM Bogor!!!

Kenalin yah, nih iskandariah atau biasa dipanggil iis, dari angkatan 92 anu bontot thea. Boleh kan ikutan nimbrung disini??
Terus terang saya seneng banget dengan adanya blog ini, yang menandakan bahwa SUPM Bogor selalu ada di hati para alumninya. Khusus buat temen-temen angkatan 92, yuk kita ngeramein blog ini, biar seru gitu lho...

Happy Birthday ANI


GENAP DUA BULAN KEBERSAMAAN KITA


Rekan Alumni Yth.

Pada tanggal 11 Juli 2008, berangkat dari keinginan untuk menyambung dan mempererat kembali tali silaturahmi kita, “supm bogor 89 kenangan” pertama kali hadir bersama kita, tentunya dengan segudang kelemahan, keterbatasan dan kederhanaan yang Insya Allah akan terus bermetamorfosis kea rah yang lebih baik, baik, dan baik lagi, seperti yang kita inginkan.

Kehadiran 2 weblog kita supm bogor 89” dan ”supm bogor 89 kenangan” kiranya dapat sedikit mengobati kekangenan diantara kita, menjembatani ruang dan waktu diantara kita, mengikat kembali tali silaturahmi kita. Insya Allah, semua ini kami tujukan untuk dan dari kita, segenap almamater.

Alhamdulillah, dalam kurun waktu yang sangat singkat tersebut, blog supm bogor 89 kenangan ini telah menghadirkan sebanyak 77 posting dengan 107 komentar. Atau rata sebanyak 38,5 posting per bulan yang sepertinya merupakan jumlah posting terbanyak untuk kategori blog komunitas terbatas supm bogor. Insya Allah kedepan, dengan partisifasi aktif rekan semua, blog kita akan semakin bertambah semarak lagi.

Selain dari segi jumlah, keberagaman isi posting juga Alhamdulillah sangat beragaman. Rekan rekan hadir dengan dengan talent dan keinginan yang berbeda satu sama lain dalam mengekspresikan keinginan hatinya. Esensi keagamaan sangat terasa dan beragam dikupas seiring Ramadhan, kepedulian sosial terus didengungkan untuk menyadarkan kita akan penderitaan sesama, tentunya dengan tujuan yang sangat mulia. Ajang kenangan untuk memutar kembali masa-masa kita dulu, untuk semakin menguatkan diri kita kini dan selanjutnya, dan esensi lainnya yang sarat dengan perenungan dan motivasi lainnya.

Yang lebih membahagiakan kita, kehadiran blog kita ini ternyata kalau meminjam kata Patriani ”bukan hanya keriuhan semata menjelang reuni”. Aksi nyata telah dilakukan, pengumpulan dana dari rekan semua melalui Posko 89 Peduli, telah disalurkan untuk sedikitnya membantu ”anak yatim” dari rekan alumni melalu ”dana bantuan pendidikan" selama 1 (satu) tahun untuk 4 (empat) orang ananda dari Alm. Abdul Azis, Amin Mulya, Nurkholis dan Rusmono. Saat ini malah telah disalurkan untuk 2 sampai 4 bulan pertama. Alhamdulillah. Insya Allah, kedepan, dengan dukungan rekan semua yang bukan hanya Angkatan 89, namun dari kita semua yang merasa ”terpanggil” untuk peduli menyantuni anak yatim, mudah-mudahan akan semakin banyak lagi anak-anak yatim yang kita beri kesempatan untuk terus terbantu dana pendidikannya, Insya Allah.

Pada akhirnya, Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga pada rekan semua yang telah aktif mengisi blog kita ini dan mengundang kembali pada seluruh rekan alumni, tanpa kecuali untuk hadir memeriahkan blog kita ini. Kami menunggu partisifasi aktif rekan semua, kirimkan semua yang ingin rekan inginkan di melalui email ke

cikaret89@gmail.com atau posko89@gmail.com atau melalui sms ke 081398482564

atau posting langsung dengan mengirimkan alamat gmail anda terlebih dahulu ke alamat tersebut di atas

Teriring doa, semoga blog kita ini semakin memberi makna bagi kita. Amin

Posko 89, Posko89Peduli, supm bogor 89, supm bogor 89 kenangan

SOLITUDE : BELIBISKU DIMANAKAH?

SOLITUDE : BELIBISKU DIMANAKAH?


NandKosw : U/ semua kenangan kita & semua ttg kita (Eresde -kdi)


Kemanakah meski ku bertaruh sementara tak ku mampu sedikitpun untukku berpulang hingga ku harus menunggu betapa lama belibis itu kembali, menari dan menyanyi dengan kepak sayap-sayapnya yang indah, sementara ku tetaplah hanya seorang tetua renta yang tersesat teramat jauh dijalanku, yang terlalu letih dijalanku, yang terlalu rapuh dijalanku untuk menemukanmu, belibisku!


Kemanakah mesti ku bertajuk sementara kini telah bertali bidukku di dermaga dan akupun telah kehilangan arah untuk mencarimu, bilapun waktuku masih ada telah teramat sempit ruangku untuk berpijak, bilapun langkahku masih ada telah teramat lelah kakiku untuk berjalan, bilapun pandangku masih ada telah teramat nanar mataku bertatap bila mulutku masih ada telah teramat kelu tegurku untuk menyapa serta bila taqdirku masih ada selamanya ku takkan membiarkanmu pergi karena betapapun terjal dan terasa pahitnya, betapapaun kerontang dan terasa sakitnya betapapun gersang dan terasa lukanya sesungguhnya ku masih merindukanmu, belibisku!


Hingga ke ujung bidukku berlabuh dan layar itu telahlah bersurut, ku takkan berhenti menemukanmu, tidak untuk kembali pinang masa – masa indah kita, tidak untuk kembali ikatkan pertalian kita, tidak untuk kembali jalin kebersamaan kita, tidak untuk kembali ku mencinta, tidak untuk kembali engkau menerimaku tapi aku kan kembali untukmu untuk mengejarmu untuk kubawakan kembali semua kenangan kita di jembatan tua dipinnggiran hutan itu, dibeningnya air disungai itu disaat kita menyebrang di ujung desa itu, dideru dan sesaknya nafas berahi kita, di sawah, gunung, laut dan semak belukar tempat kita berdahaga dan berkencan, dimana – mana yang telah menjadi kita, kita dan kita, dimasa – masa bahagia kita, diantara dekapan kita dan perpisahanmu 'Ma'afkan aku Aa! ', hingga kupun tersadar ku memang tak pernah bisa mengejarmu, belibisku !

Kamis, 11 September 2008

BEGINIKAH PROFIL GENERASI PENERUS KITA?







BANGSA BAHARI

Tradisi Besar yang Dilupakan

Jumat, 5 September 2008 | 00:15 WIB

Sumber: http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/09/05/ 00153641/ tradisi.besar. yang.dilupakan

Jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa di perairan Nusantara pada paruh pertama abad XVI, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut dan tampil sebagai penjelajah samudra. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia.

Serangkaian penelitian mutakhir yang dilakukan Robert Dick-Read (Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika, 2008) bahkan memperlihatkan fenomena mengagumkan. Afrikanis dari London University ini, antara lain, menyoroti bagaimana peran pelaut-pelaut nomaden dari wilayah berbahasa Austronesia, yang kini bernama Indonesia, meninggalkan jejak peradaban yang cukup signifikan di sejumlah tempat di Afrika.

Para penjelajah laut dari Nusantara diperkirakan sudah menjejakkan kaki mereka di Benua Afrika melalui Madagaskar sejak masa-masa awal tarikh Masehi. Jauh lebih awal daripada bangsa Eropa mengenal Afrika selain Gurun Sahara-nya dan jauh sebelum bangsa Arab dan Zhirazi dengan perahu dhow mereka menemukan kota-kota eksotis di Afrika, seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar.

”Meskipun (para pelaut Nusantara) tidak meninggalkan catatan dan bukti-bukti konkret mengenai perjalanan mereka, sisa-sisa peninggalan mereka di Afrika jauh lebih banyak daripada yang diketahui secara umum,” tulis Dick-Read pada pengantar buku terbarunya.

Catatan hasil penelitian Dick-Read kian memperkaya khazanah literatur tentang peran pelaut-pelaut Indonesia pada masa lampau. Bukti-bukti mutakhir tentang penjelajahan pelaut Indonesia pada abad ke-5 yang dibentangkan Dick-Read makin mempertegas pandangan selama ini bahwa sejak lebih dari 1.500 tahun lampau nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut sejati.

Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus membuat sejarah pelayaran mereka yang fenomenal, para penjelajah laut Nusantara bisa dikatakan sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas.

Jung-jung China lebih banyak melayani angkutan sungai dan pantai.

Tentang hal ini, Oliver W Wolters (1967) mencatat bahwa dalam hal hubungan perdagangan melalui laut antara Indonesia dan China—juga antara China dan India Selatan serta Persia—pada abad V-VII, terdapat indikasi bahwa bangsa China hanya mengenal pengiriman barang oleh bangsa Indonesia.

I-Tsing, pengelana dari China yang banyak menyumbang informasi terkait masa sejarah awal Nusantara, secara eksplisit mengakui peran pelaut-pelaut Indonesia. Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 Masehi) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”.

Dengan kata lain, arus perdagangan barang dan jasa menjelang akhir milenium pertama di ”jalur sutra” melalui laut— meminjam istilah arkeolog Hasan Muarif Ambary (alm)—sangat bergantung pada peran pelaut-pelaut Indonesia. Tesis Dick-Read bahkan lebih jauh lagi, bahwa pada awal milenium pertama kapal-kapal Kun Lun (baca: Indonesia) sudah ikut terlibat dalam perdagangan di Mediterania.

Masyarakat bahari

Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 2), mengidentifikasikan nya sebagai orang-orang laut, sedangkan Dick-Read merujuk ke sumber yang lebih spesifik: orang-orang Bajo atau Bajau. Mereka ini semula berdiam di kawasan Selat Melaka, terutama di sekitar Johor saat ini, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara, dan pada sekitar abad XIV sebagian besar bermukim di wilayah timur Indonesia.

Peran yang dimainkan para pelaut Indonesia pada masa silam tersebut terus berlanjut hingga kedatangan orang-orang Eropa di Nusantara. Para penjelajah laut dan pengelana samudra inilah yang membentuk apa yang disebut Adrian B Lapian, ahli sejarah maritim pertama Indonesia, sebagai jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air.

Anthony Reid (Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, 2004) menyebut kelompok masyarakat berbahasa Austronesia ini sebagai perintis yang merajut kepulauan di Asia Tenggara ke dalam sistem perdagangan global.

Akan tetapi, pada abad XVIII masyarakat Nusantara dengan budaya maritimnya yang kental itu mengalami kemunduran. Monopoli perdagangan dan pelayaran yang diberlakukan pemerintahan kolonial Belanda, walau tidak mematikan, sangat membatasi ruang gerak kapal-kapal pelaut Indonesia.

Ironisnya, setelah 68 tahun Indonesia merdeka, setelah PBB mengakui Deklarasi Djoeanda (1957) bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, tradisi besar itu masih saja dilupakan.

Kini, kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan dijumpai di banyak tempat, sementara di sisi lain, kekayaan laut kita terus dikuras entah oleh siapa.... (KEN)

Rabu, 10 September 2008

INGATKAN DIRI KITA UNTUK PEDULI TERHADAP SESAMA

Ingatkan Diri Kita Untuk Peduli Terhadap Sesama


Di suatu hari raya, Rasulullah Muhammad SAW, terlambat datang memimpin salat. Sahabat bertanya-tanya gerangan apa yang menunda kedatangan Rasulullah. Rupanya diperjalanan, Rasul melihat ada seorang anak yatim yang sedang menagis, karena kelaparan. Rasul memilih untuk memenuhi terlebih dahulu kebutuhan si anak tersebut, walaupun itu membuatnya menjadi terlambat.

Begitu juga dengan para sahabat Rasul, bagaimana Umar bin Khattab, kalifah kedua yang perkasa, memanggul sendiri gandum untuk diberikan pada salah satu keluarga miskin, yang sedang menanak tungku kosong hanya untuk menghibur hati anaknya yang menangis karena kelaparan.

Sekarang, pertanyaanya?

  • Sudah berapa lamakah kita tidak membelai kepala anak yatim dan kita gembirakan hatinya. Atau jangan-jangan kita belum pernah?
  • Sudah berapalamakan kita tidak mengetuk pintu orang yang sedang kesusahan? Atau malah barangkali kita tidak pernah membukakan pintu ketika ia mengetuknya.
  • Adakah kita berpesta, sementara tetangga yang miskin kita lewatkan tak diundang.
  • Adakah rumah kita menantang langit, sementara rumah orang tua kita dari dulu sejak kita kecil, begitu-begitu saja.?
  • Ketika kita gajian, adakah terpikir siapa yang bakal kita santuni? Atau jangan-jangan lebih banyak berpikir, mau bersenang-senang kemana kita?
  • Ketika makan dengan enaknya, pernahkah terpikir masih banyak orang yang tidak bisa makan?
  • Dan seterusnya dan seterusnya

Sekarang tanyakan pada diri kita , apa yang sudah kita lakukan ketika Allah memberikan kita kenikmatan, yang dengannya kita diminta untuk berbagi? Kalau pertanyaan ini kita jawab dengan jawaban ”kita tidak pernah menunjukan kepedulian, perhatian dan kasih sayang kepada sesama. Inilah Ramadhan yang indah untuk kita peduli, saatnya kita untuk berbagi. Sebelum semua digegaman kita diambil Allah kembali.

Seorang Ustad pernah mengatakan ” ....kalau kita tidak mau berbagi, kalau kita tidak mau peduli terhadap rintihan dan penderitaan orang lain, tunggulah.... tunggu hingga saatnya kesusahan datang dipergilirkan di kehidupan kita. Saat itu, kita sendiri yang akan merintih dan menangis memanggil nama Allah agar Dia mau peduli terhadap kita".


Lama sekali kepedulian menghilang dari ingatan hamba, begitu juga dengan sifat kasih sayang kepada sesama. Itu karena hamba telah menjelma menjadi manusia-manusia serakah yang lebih mementingkan isi perut sendiri. Lalu, masih layakah hamba ini menjadi abid-Mu, sementara Engkau Maha Pengasih, Engkau Maha Penyayang, Engkau Maha Peduli?

(Intisari dari Cahaya Ramadhan oleh Yusuf Mansur)