
Jumat, 12 September 2008
IKUTAN YA KAK !!!

GENAP DUA BULAN KEBERSAMAAN KITA
Rekan Alumni Yth.
Kehadiran 2 weblog kita ”supm bogor 89” dan ”supm bogor 89 kenangan” kiranya dapat sedikit mengobati kekangenan diantara kita, menjembatani ruang dan waktu diantara kita, mengikat kembali tali silaturahmi kita. Insya Allah, semua ini kami tujukan untuk dan dari kita, segenap almamater.
Alhamdulillah, dalam kurun waktu yang sangat singkat tersebut, blog supm
cikaret89@gmail.com atau posko89@gmail.com atau melalui sms ke 081398482564
Teriring doa, semoga blog kita ini semakin memberi makna bagi kita. Amin
Posko 89, Posko89Peduli, supm bogor 89, supm bogor 89 kenangan
SOLITUDE : BELIBISKU DIMANAKAH?
SOLITUDE : BELIBISKU DIMANAKAH?
NandKosw : U/ semua kenangan kita & semua ttg kita (Eresde -kdi)
Kemanakah meski ku bertaruh sementara tak ku mampu sedikitpun untukku berpulang hingga ku harus menunggu betapa lama belibis itu kembali, menari dan menyanyi dengan kepak sayap-sayapnya yang indah, sementara ku tetaplah hanya seorang tetua renta yang tersesat teramat jauh dijalanku, yang terlalu letih dijalanku, yang terlalu rapuh dijalanku untuk menemukanmu, belibisku!
Kemanakah mesti ku bertajuk sementara kini telah bertali bidukku di dermaga dan akupun telah kehilangan arah untuk mencarimu, bilapun waktuku masih ada telah teramat sempit ruangku untuk berpijak, bilapun langkahku masih ada telah teramat lelah kakiku untuk berjalan, bilapun pandangku masih ada telah teramat nanar mataku bertatap bila mulutku masih ada telah teramat kelu tegurku untuk menyapa serta bila taqdirku masih ada selamanya ku takkan membiarkanmu pergi karena betapapun terjal dan terasa pahitnya, betapapaun kerontang dan terasa sakitnya betapapun gersang dan terasa lukanya sesungguhnya ku masih merindukanmu, belibisku!
Hingga ke ujung bidukku berlabuh dan layar itu telahlah bersurut, ku takkan berhenti menemukanmu, tidak untuk kembali pinang masa – masa indah kita, tidak untuk kembali ikatkan pertalian kita, tidak untuk kembali jalin kebersamaan kita, tidak untuk kembali ku mencinta, tidak untuk kembali engkau menerimaku tapi aku kan kembali untukmu untuk mengejarmu untuk kubawakan kembali semua kenangan kita di jembatan tua dipinnggiran hutan itu, dibeningnya air disungai itu disaat kita menyebrang di ujung desa itu, dideru dan sesaknya nafas berahi kita, di sawah, gunung, laut dan semak belukar tempat kita berdahaga dan berkencan, dimana – mana yang telah menjadi kita, kita dan kita, dimasa – masa bahagia kita, diantara dekapan kita dan perpisahanmu 'Ma'afkan aku Aa! ', hingga kupun tersadar ku memang tak pernah bisa mengejarmu, belibisku !
Kamis, 11 September 2008
BANGSA BAHARI
Tradisi Besar yang Dilupakan
Jumat,
Sumber: http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/09/05/ 00153641/ tradisi.besar. yang.dilupakan
Jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa di perairan Nusantara pada paruh pertama abad XVI, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut dan tampil sebagai penjelajah samudra. Kronik
Serangkaian penelitian mutakhir yang dilakukan Robert Dick-Read (Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika, 2008) bahkan memperlihatkan fenomena mengagumkan. Afrikanis dari London University ini, antara lain, menyoroti bagaimana peran pelaut-pelaut nomaden dari wilayah berbahasa Austronesia, yang kini bernama Indonesia, meninggalkan jejak peradaban yang cukup signifikan di sejumlah tempat di Afrika.
”Meskipun (para pelaut Nusantara) tidak meninggalkan catatan dan bukti-bukti konkret mengenai perjalanan mereka, sisa-sisa peninggalan mereka di Afrika jauh lebih banyak daripada yang diketahui secara umum,” tulis Dick-Read pada pengantar buku terbarunya.
Catatan hasil penelitian Dick-Read kian memperkaya khazanah literatur tentang peran pelaut-pelaut
Jauh sebelum Cheng Ho dan
Tentang hal ini, Oliver W Wolters (1967) mencatat bahwa dalam hal hubungan perdagangan melalui laut antara
I-Tsing, pengelana dari
Dengan kata lain, arus perdagangan barang dan jasa menjelang akhir milenium pertama di ”jalur sutra” melalui laut— meminjam istilah arkeolog Hasan Muarif Ambary (alm)—sangat bergantung pada peran pelaut-pelaut
Masyarakat bahari
Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 2), mengidentifikasikan nya sebagai orang-orang laut, sedangkan Dick-Read merujuk ke sumber yang lebih spesifik: orang-orang Bajo atau Bajau. Mereka ini semula berdiam di kawasan Selat Melaka, terutama di sekitar Johor saat ini, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara, dan pada sekitar abad XIV sebagian besar bermukim di wilayah timur Indonesia.
Peran yang dimainkan para pelaut Indonesia pada masa silam tersebut terus berlanjut hingga kedatangan orang-orang Eropa di Nusantara. Para penjelajah laut dan pengelana samudra inilah yang membentuk apa yang disebut Adrian B Lapian, ahli sejarah maritim pertama Indonesia, sebagai jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air.
Anthony Reid (Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, 2004) menyebut kelompok masyarakat berbahasa Austronesia ini sebagai perintis yang merajut kepulauan di Asia Tenggara ke dalam sistem perdagangan global.
Akan tetapi, pada abad XVIII masyarakat Nusantara dengan budaya maritimnya yang kental itu mengalami kemunduran. Monopoli perdagangan dan pelayaran yang diberlakukan pemerintahan kolonial Belanda, walau tidak mematikan, sangat membatasi ruang gerak kapal-kapal pelaut Indonesia.
Ironisnya, setelah 68 tahun Indonesia merdeka, setelah PBB mengakui Deklarasi Djoeanda (1957) bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, tradisi besar itu masih saja dilupakan.
Kini, kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan dijumpai di banyak tempat, sementara di sisi lain, kekayaan laut kita terus dikuras entah oleh siapa.... (KEN)
Rabu, 10 September 2008
INGATKAN DIRI KITA UNTUK PEDULI TERHADAP SESAMA
Ingatkan Diri Kita Untuk Peduli Terhadap Sesama
Di suatu hari raya, Rasulullah Muhammad SAW, terlambat datang memimpin salat. Sahabat bertanya-tanya gerangan apa yang menunda kedatangan Rasulullah. Rupanya diperjalanan, Rasul melihat ada seorang anak yatim yang sedang menagis, karena kelaparan. Rasul memilih untuk memenuhi terlebih dahulu kebutuhan si anak tersebut, walaupun itu membuatnya menjadi terlambat.
Begitu juga dengan para sahabat Rasul, bagaimana Umar bin Khattab, kalifah kedua yang perkasa, memanggul sendiri gandum untuk diberikan pada salah satu keluarga miskin, yang sedang menanak tungku kosong hanya untuk menghibur hati anaknya yang menangis karena kelaparan.
- Sudah berapa lamakah kita tidak membelai kepala anak yatim dan kita gembirakan hatinya. Atau jangan-jangan kita belum pernah?
- Sudah berapalamakan kita tidak mengetuk pintu orang yang sedang kesusahan? Atau malah barangkali kita tidak pernah membukakan pintu ketika ia mengetuknya.
- Adakah kita berpesta, sementara tetangga yang miskin kita lewatkan tak diundang.
- Adakah rumah kita menantang langit, sementara rumah orang tua kita dari dulu sejak kita kecil, begitu-begitu saja.?
- Ketika kita gajian, adakah terpikir siapa yang bakal kita santuni? Atau jangan-jangan lebih banyak berpikir, mau bersenang-senang kemana kita?
- Ketika makan dengan enaknya, pernahkah terpikir masih banyak orang yang tidak bisa makan?
- Dan seterusnya dan seterusnya
Seorang Ustad pernah mengatakan ” ....kalau kita tidak mau berbagi, kalau kita tidak mau peduli terhadap rintihan dan penderitaan orang lain, tunggulah.... tunggu hingga saatnya kesusahan datang dipergilirkan di kehidupan kita. Saat itu, kita sendiri yang akan merintih dan menangis memanggil nama Allah agar Dia mau peduli terhadap kita".
Lama sekali kepedulian menghilang dari ingatan hamba, begitu juga dengan sifat kasih sayang kepada sesama. Itu karena hamba telah menjelma menjadi manusia-manusia serakah yang lebih mementingkan isi perut sendiri. Lalu, masih layakah hamba ini menjadi abid-Mu, sementara Engkau Maha Pengasih, Engkau Maha Penyayang, Engkau Maha Peduli?
(Intisari dari Cahaya Ramadhan oleh Yusuf Mansur)









